FLORES TIMUR
Minggu, 07 September 2014
Jumat, 13 Desember 2013
BATAS WILAYAH KABUPATEN FLORES TIMUR
Flores Timur Adalah Sebuah Kabupaten Yang Berada Di
Pulau Flores, Didalam Wilayah Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Kota
Larantuka Adalah Ibukota Kabupaten Flores Timur. Berdasarkan Namanya, Sudah Dapat Dibayangkan Kalau Kabupaten Flores Timur Ini Terletak Di Bagian Timur Dari Pulau Flores. Kabupaten Flores Timur
Ini Terdiri Atas Beberapa Kepulauan, Dengan Pulau Terbesarnya Adalah
Kepulauan Solor Dan Adonara. Banyak Kekayaan Alam Yang Belum Mampu
Dimaksimlakan, baik Dalam Pengelolaannya Maupun Bagaimana
Melestarikannya Secara Proporsional. SDA Kabupaten Flores Timur Jika Mampu Dimaksimalkan Pemanfaatannya Dapat Menjadi Penambang Devisa Bagi Kabupaten Ini
Dari Letak Geografisnya, Maka Kabupaten Flores Timur Ini Berbatasan Darat Langsung Dengan Kabupaten Sikka. Sarana Utama Yang Menghubungkannya Dengan Kabupaten Lain Yang Berada Di Wilayah Flores Adalah Dengan Jalan Darat Yang Menghubungkan Kota Maumere Yang Adalah Ibukota Kabupaten Sikka, Kota Ende Yang Merupakan Ibukota Kabupaten Ende, Kota Mbay Yang Sekarang Adalah Ibukota Kabupaten Nagekeo, Kota Bajawa Yang Adalah Ibukota Kabupaten Ngada, Kota Borong Ibukota Kabupaten Manggarai Timur, Kota Ruteng Ibukota Kabupaten Manggarai Dan Kota Labuan Bajo Yang Adalah Ibukota Kabupaten Manggarai Barat.
Batas Wilayah Kabupaten Flores Timur Adalah :
1. Batas Sebelah Utara Flores Timur Adalah Dengan : Laut Flores
2. Batas Sebelah Timur Flores Timur Adalah Dengan : Kabupaten Lembata
3. Batas Sebelah Selatan Flores Timur Adalah Dengan : Laut Sawu
4. Batas Sebelah Barat Flores Timur Adalah Dengan : Kabupaten Sikka
Sarana Transportasi Lainnya Yang Digunakan Di Kabupaten Flores Timur Ini Adalah Melalui Udara Yang Merupakan Akses Dari Dan Ke Luar Di Kabupaten Flores Timur Melalui Bandar Udara Gewayan Tana. Bandar Udara Gewayan Tana Ini Mampu Melayani Pesawat Sedang Bertype Fokker 28. Selain Transportasi Laut Melalui Pelabuhan Lautnya. Flores Timur Memiliki Potensi Yang Cukup Handal Didalam Bidang Pertanian, Selain Budidaya Kelautan Dan Sektor Perikanan. Hal Ini Masih Didukung Pula Dengan Besarnya Potensi Tambang Yang Ada Di Wilayah Flores Timur, Yang Tersebar Di Beberapa Kecamatan. Kabupaten Flores Timur Seperti Juga Kawasan lain Di Pulau Flores Seperti Manggarai, Manggarai Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, Dan Kabupaten Lembata, Menyimpan Banyak Ragam Kebudayaan NTT (Nusa Tenggara Timur) Yang Belum Terekspos Secara Gamblang.
Letak Astronomis Kabupaten Flores Timur Adalah Diantara 8° 3' 36" LS - 8° 38' 24" LS Dan 122° 39' 0" BT - 123° 20' " BT. Kabupaten Flores Timur Yang Juga Berada Didalam Jalur Daerah Gunung Berapi Di Indonesia, Memiliki 4 Gunung Berapi Yaitu Gunung Lewotobi Laki-Laki Dengan Ketinggian 1.584 Mdpl, Gunung Lewotobi Perempuan 1.703 Mdpl, Gunung Lereboleng 1.117 Mdpl Dan Gunung Ile Boleng 1.659 Mdpl. Beriklim Tropis Adalah Juga Iklim Di Flores Timur, Sebagaimana Banyak Kawasan Lainnya Di Flores. Dengan Panjang Musim Kemarau Antara 8 - 9 Bulan Dan Sisanya Rentangn Musim Penghujan Antara 3 - 4 Bulan.
Wilayah Administratif Kabupaten Flores Timur Terdiri Dari 18 Kecamatan Yang terdiri Dari 17 Kelurahan Dan 209 Desa.
Kecamatan Yang Ada Di Kabupaten Flores Timur Antara Lain :
1. Kecamatan Wulanggitang Dengan Ibukota Kecamatan Boru
2. Kecamatan Titehena Dengan Ibukota Kecamatan Lato
3. Kecamatan Tanjung Bunga Dengan Ibukota Kecamatan Waiklibang
4. Kecamatan Ile Mandiri Dengan Ibukota Kecamatan Lewohala
5. Kecamatan Larantuka Dengan Ibukota Kecamatan Larantuka
6. Kecamatan Solor Barat Dengan Ibukota Kecamatan Ritaebang
7. Kecamatan Solor Timur Dengan Ibukota Kecamatan Menanga
8. Kecamatan Wotan Ulumado Dengan Ibukota Kecamatan Baniona
9. Kecamatan Adonara Barat Dengan Ibukota Kecamatan Waiwadan
10. Kecamatan Adonara Timur Dengan Ibukota Kecamatan Waiwerang
11. Kecamatan Ile Boleng Dengan Ibukota Kecamatan Senadan
12. Kecamatan Witihama Dengan Ibukota Kecamatan Witihama
13. Kecamatan Klubagolit Dengan Ibukota Kecamatan Pepakkelu
14. Kecamatan Wotan Ulumado dengan ibukota kecamatan Baniona
15. Kecamatan Adonara Tengah dengan ibukota kecamatan Riang Lamen
16.
17.
18.
Pulau Yang Berada Didalam Wilayah Kabupaten Flores Timur Adalah :
1. Pulau Solor
2. Pulau Adonara
3. Pulau Konga
4. Pulau Suanggi
5. Pulau Besar
6. Pulau Kambing
Dari Letak Geografisnya, Maka Kabupaten Flores Timur Ini Berbatasan Darat Langsung Dengan Kabupaten Sikka. Sarana Utama Yang Menghubungkannya Dengan Kabupaten Lain Yang Berada Di Wilayah Flores Adalah Dengan Jalan Darat Yang Menghubungkan Kota Maumere Yang Adalah Ibukota Kabupaten Sikka, Kota Ende Yang Merupakan Ibukota Kabupaten Ende, Kota Mbay Yang Sekarang Adalah Ibukota Kabupaten Nagekeo, Kota Bajawa Yang Adalah Ibukota Kabupaten Ngada, Kota Borong Ibukota Kabupaten Manggarai Timur, Kota Ruteng Ibukota Kabupaten Manggarai Dan Kota Labuan Bajo Yang Adalah Ibukota Kabupaten Manggarai Barat.
Batas Wilayah Kabupaten Flores Timur Adalah :
1. Batas Sebelah Utara Flores Timur Adalah Dengan : Laut Flores
2. Batas Sebelah Timur Flores Timur Adalah Dengan : Kabupaten Lembata
3. Batas Sebelah Selatan Flores Timur Adalah Dengan : Laut Sawu
4. Batas Sebelah Barat Flores Timur Adalah Dengan : Kabupaten Sikka
Sarana Transportasi Lainnya Yang Digunakan Di Kabupaten Flores Timur Ini Adalah Melalui Udara Yang Merupakan Akses Dari Dan Ke Luar Di Kabupaten Flores Timur Melalui Bandar Udara Gewayan Tana. Bandar Udara Gewayan Tana Ini Mampu Melayani Pesawat Sedang Bertype Fokker 28. Selain Transportasi Laut Melalui Pelabuhan Lautnya. Flores Timur Memiliki Potensi Yang Cukup Handal Didalam Bidang Pertanian, Selain Budidaya Kelautan Dan Sektor Perikanan. Hal Ini Masih Didukung Pula Dengan Besarnya Potensi Tambang Yang Ada Di Wilayah Flores Timur, Yang Tersebar Di Beberapa Kecamatan. Kabupaten Flores Timur Seperti Juga Kawasan lain Di Pulau Flores Seperti Manggarai, Manggarai Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, Dan Kabupaten Lembata, Menyimpan Banyak Ragam Kebudayaan NTT (Nusa Tenggara Timur) Yang Belum Terekspos Secara Gamblang.
Letak Astronomis Kabupaten Flores Timur Adalah Diantara 8° 3' 36" LS - 8° 38' 24" LS Dan 122° 39' 0" BT - 123° 20' " BT. Kabupaten Flores Timur Yang Juga Berada Didalam Jalur Daerah Gunung Berapi Di Indonesia, Memiliki 4 Gunung Berapi Yaitu Gunung Lewotobi Laki-Laki Dengan Ketinggian 1.584 Mdpl, Gunung Lewotobi Perempuan 1.703 Mdpl, Gunung Lereboleng 1.117 Mdpl Dan Gunung Ile Boleng 1.659 Mdpl. Beriklim Tropis Adalah Juga Iklim Di Flores Timur, Sebagaimana Banyak Kawasan Lainnya Di Flores. Dengan Panjang Musim Kemarau Antara 8 - 9 Bulan Dan Sisanya Rentangn Musim Penghujan Antara 3 - 4 Bulan.
Wilayah Administratif Kabupaten Flores Timur Terdiri Dari 18 Kecamatan Yang terdiri Dari 17 Kelurahan Dan 209 Desa.
Kecamatan Yang Ada Di Kabupaten Flores Timur Antara Lain :
1. Kecamatan Wulanggitang Dengan Ibukota Kecamatan Boru
2. Kecamatan Titehena Dengan Ibukota Kecamatan Lato
3. Kecamatan Tanjung Bunga Dengan Ibukota Kecamatan Waiklibang
4. Kecamatan Ile Mandiri Dengan Ibukota Kecamatan Lewohala
5. Kecamatan Larantuka Dengan Ibukota Kecamatan Larantuka
6. Kecamatan Solor Barat Dengan Ibukota Kecamatan Ritaebang
7. Kecamatan Solor Timur Dengan Ibukota Kecamatan Menanga
8. Kecamatan Wotan Ulumado Dengan Ibukota Kecamatan Baniona
9. Kecamatan Adonara Barat Dengan Ibukota Kecamatan Waiwadan
10. Kecamatan Adonara Timur Dengan Ibukota Kecamatan Waiwerang
11. Kecamatan Ile Boleng Dengan Ibukota Kecamatan Senadan
12. Kecamatan Witihama Dengan Ibukota Kecamatan Witihama
13. Kecamatan Klubagolit Dengan Ibukota Kecamatan Pepakkelu
14. Kecamatan Wotan Ulumado dengan ibukota kecamatan Baniona
15. Kecamatan Adonara Tengah dengan ibukota kecamatan Riang Lamen
16.
17.
18.
Pulau Yang Berada Didalam Wilayah Kabupaten Flores Timur Adalah :
1. Pulau Solor
2. Pulau Adonara
3. Pulau Konga
4. Pulau Suanggi
5. Pulau Besar
6. Pulau Kambing
LAMBANG KABUPATEN FLORES TIMUR
- Lambang Kabupaten Flores Timur berbentuk perisai bersisi lima, yang mengandung arti sebagai perlindungan rakyat dengan sisi lima melambangkan Pancasila sebagai Dasar Negara;
- Bintang berwarna emas melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai sila I dari Pancasila;
- Tempat sirih (ekot, wajak, kepe sirih) melambangkan kesatuan/persatuan Flores Timur;
- Padi dan kapas melambangkan kemakmuran (kesejahteraan rakyat);
- 14 butir padi, 12 kuntum kapas, 5 daun sirih serta 8 daun bunga putih melambangkan saat terbentuknya Kabupaten Flores Timur tanggal 14 Desember 1958;
- Bunga yang berdaun bunga putih dan berputik kuning melambangkan Flores Timur yaitu Bunga di timur;
- Sebilah tombak dan sebilah parang penopang pita nama Daerah Kabupaten Flores Timur yang keduanya dihubungkan dengan tali yang melilit pada batang tombak dan hulu parang dan melingkar sebagian bunga terletak pada/menyentuh tempat sirih, melambangkan Flores Timur yang dahulunya terdiri dari 2 buah wilayah yaitu Demon dan Paji yang suka mengangkat senjata satu sama lainnya tetapi kini tidak lagi, sudah berdamai/bersatu dengan terbentuknya Daerah Kabupaten Flores Timur;
- Laut sesuai kondisi geografis Flores Timur yang memperlihatkan keindahannya dengan empat alunan gelombang putih yang melambangkan Adonara, Solor, Lembata dan Flores Timur sebagai daratan yang membentuk Flores Timur;
- Pohon beringin melambangkan pengayom, menandakan bahwa rakyat Flores Timur ikhlas dan rela menjunjung tinggi kekuasaan dan kewibawaan Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
- Warna lambang hijau adalah harapan, dambaan akan kejayaan. Kuning adalah keagungan, kejayaan, keluhuran. Hitam adalah keteguhan, keabadian. Putih adalah kemurnian hati nurani dan biru adalah ketenangan dan kedamaian
SEJARAH TERBENTUKNYA WILAYAH ADMINISTRASI FLORES TIMUR
20 Desember diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Kabupaten Flores Timur.
Pada awal pembentukan Kabupaten Flores Timur terdiri dari 8 Kecamatan yaitu :
- Kecamatan Lomblen Timur Ibukota : Hadakewa
- Kecamatan Lomblen Barat Ibukota : Boto
- Kecamatan Solor Ibukota : Pamakayo
- Kecamatan Adonara Timur Ibukota : Waiwerang
- Kecamatan Adonara Barat Ibukota : Waiwadan
- Kecamatan Larantuka Ibukota : Larantuka
- Kecamatan Wulanggitang Ibukota : Boru
- Kecamatan Tanjung Bunga Ibukota : Waiklibang
Pada tahun 1964, terjadi pemekaran Kecamatan di Lomblen (Lembata) dan Solor yaitu :
- Kecamatan Lomblen Timur dimekarkan menjadi 4 kecamatan yaitu :
- Kecamatan Omesuri Ibukota : Balauring
- Kecamatan Buyasuri Ibukota : Wairiang
- Kecamatan Ile Ape Ibukota : Waipukan
- Kecamatan Lebatukan Ibukota : Hadakewa
- Kecamatan Lomblen Barat dimekarkan menjadi 2 Kecamatan yaitu :
- Kecamatan Atadei Ibukota : Waiteba
- Kecamatan Nagawutung Ibukota : Boto
- Kecamatan Solor dimekarkan menjadi 2 Kecamatan yaitu :
- Kecamatan Solor Timur Ibukota : Menanga
- Kecamatan Solor Barat Ibukota : Ritaebang
Dengan pemekaran tersebut maka jumlah kecamatan di Kabupaten Flores Timur menjadi 13 Kecamatan yaitu :
- Kecamatan Wulanggitang Ibukota : Boru
- Kecamatan Larantuka Ibukota : Larantuka
- Kecamatan Tanjung Bunga Ibukota : Waiklibang
- Kecamatan Adonara Timur Ibukota : Waiwerang
- Kecamatan Adonara Barat Ibukota : Waiwadan
- Kecamatan Solor Timur Ibukota : Menanga
- Kecamatan Solor Barat Ibukota : Ritaebang
- Kecamatan Nagawutung Ibukota : Boto
- Kecamatan Atadei Ibukota : Waiteba
- Kecamatan Lebatukan Ibukota : Hadakewa
- Kecamatan Ile Ape Ibukota : Waipukan
- Kecamatan Omesuri Ibukota : Balauring
- Kecamatan Buyasuri Ibukota : Wairiang
Pada
tahun 1999, ditetapkan UU no 52 tahun 1999 tentang Pembentukan
Kabupaten Lembata dan diresmikan oleh Gubernur NTT pada tahun 1999, maka
Kabupaten Flores Timur terdiri hanya terdiri dari pulau Solor, Adonara
dan Flores Timur Daratan dan Kecamatan terdiri dari
- Kecamatan Wulanggitang Ibukota : Boru
- Kecamatan Larantuka Ibukota : Larantuka
- Kecamatan Tanjung Bunga Ibukota : Waiklibang
- Kecamatan Adonara Timur Ibukota : Waiwerang
- Kecamatan Adonara Barat Ibukota : Waiwadan
- Kecamatan Solor Timur Ibukota : Menanga
- Kecamatan Solor Barat Ibukota : Ritaebang
Pada
tahun 2001, dengan Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur No.7 tahun
2001 tentang Peningkatan Status kecamatan pembantu menjadi kecamatan
definitif maka jumlah kecamatan di Kabupaten Flores Timur menjadi 13
Kecamatan terdiri dari :
- Kecamatan Wulanggitang Ibukota : Boru
- Kecamatan Larantuka Ibukota : Larantuka
- Kecamatan Tanjung Bunga Ibukota : Waiklibang
- Kecamatan Adonara Timur Ibukota : Waiwerang
- Kecamatan Adonara Barat Ibukota : Waiwadan
- Kecamatan Solor Timur Ibukota : Menanga
- Kecamatan Solor Barat Ibukota : Ritaebang
- Kecamatan Titehena Ibukota : Lato
- Kecamatan Ile Mandiri Ibukota : Lewohala
- Kecamatan Wotan ulumado Ibukota : Baniona
- Kecamatan Ile Boleng Ibukota : Senadan
- Kecamatan Witihama Ibukota : Witihama
- Kecamatan Kelobagolit Ibukota : Pepakelu
Dengan
Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur No.2 tahun 2006 tentang
Pembentukan Kecamatan Baru maka jumlah kecamatan di Kabupaten Flores
Timur menjadi 18 Kecamatan terdiri dari :
- Kecamatan Wulanggitang Ibukota : Boru
- Kecamatan Ile Bura Ibukota : Lewotobi
- Kecamatan Titehena Ibukota : Lato
- Kecamatan Demon Pagong Ibukota : Lewokluok
- Kecamatan Larantuka Ibukota : Larantuka
- Kecamatan Ile Mandiri Ibukota : Lewohala
- Kecamatan Lewolema Ibukota : Kawaliwu
- Kecamatan Tanjung Bunga Ibukota : Waiklibang
- Kecamatan Solor Barat Ibukota : Ritaebang
- Kecamatan Solor Timur Ibukota : Menanga
- Kecamatan Wotan Ulumado Ibukota : Baniona
- Kecamatan Adonara Barat Ibukota : Waiwadan
- Kecamatan Adonara Tengah Ibukota : Lewobele
- Kecamatan Adonara Timur Ibukota : Waiwerang
- Kecamatan Ile Boleng Ibukota : Senadan
- Kecamatan Witihama Ibukota : Witihama
- Kecamatan Kelubagolit Ibukota : Pepakelu
- Kecamatan Adonara Ibukota : Sagu
Sekarang Kabupaten Flores Timur mempunyai 18 Kecamatan
SEJARAH FLORES TIMUR
Masyarakat
Flores Timur juga memiliki kisah atau cerita rakyat tentang asal-usul
yang disebut Tutu Usu Maring Asa (Cerita Asal usul), salah satu di
antaranya adalah kisah Wato Wele-Lia Nurat. Dalam masyarakat Flores
timur, tradisi lisan tidak dapat dilepaskan dari keadaan sejarah dan
kebudayaan masyarakat pendukungnya, bahwa tradisi lisan masyarakat
Flores yang menyangkut cerita asal-usul pada umumnya sangat terkait
dengan unsur sejarah masa silam. (Taum, 1997: 4)
Masyarakat Flores Timur mengenal istilah orang Tena Mau atau kelompok suku pendatang yang berasal dari kata tena (perahu) dan mau (terdampar), istilah itu merujuk kepada para pendatang yang berasal dari wilayah Nusantara Timur (Seram, Lembata) dan datang ke Flores timur dengan menggunakan perahu. Sedangkan istilah Sina Jawa merupakan istilah untuk menyebut wilayah yang berasal dari Nusantara Barat, meliputi daerah Jawa, sumatera, Malaka dan Sumbawa, saat ini Sina Jawa merupakan istilah untuk menyebut tempat yang jauh.(Taum, 1997: 5) Menurut Misionaris Katolik Ernst Vatter, ada cerita lisan yang mengaitkan Sina Jawa dengan Malaka. (Vatter, 1932, 1984(terj). : 71) Dalam tradisi orang belu memang diceritakan bahwa rombongan Sina Mutin Malaka sempat singgah di Flores timur (Larantuka). Terdapat fakta yang nenerangkan bahwa sejak kejatuhan Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 banyak penduduk Malaka termasuk keturunan Portugis yang bermigrasi ke Larantuka, Flores Timur.
Dalam cerita tradisi lisan yang dituturkan Markus Ratu Badin (68 tahun, 1994)(Taum, 1997: 49-50) yang berasal dari Larantuka diceritakan bahwa nenek moyang orang Flores Timur berasal dari Sina Jawa, yaitu kelahiran manusia kembar Wato Wele dan Lia Nurat dari sebutir telur yang berasal dari burung Elang yang juga orang tua Ema Watu Sem dan Bapa Modu Ma yang tinggal di Sina Jawa. Dalam kutipan liriknya dapat kita baca sebagai berikut:
Teks bahasa asli dan Terjemahan
Tutu pe me-niku, tutu newa matan, maring mo-hulu laran
Kisah ini adalah kisah awal mula kebun, cerita para penunjuk jalan
Tutu nia kaka bapa, maring nia ama nene
Kisah dari nenek moyang cerita dari para leluhur
Puken nia Ema wato sem, Nimun nia Bapa madu Ma
Bermula dari Ema Wato Sem, berawal dari Bapak Madu Ma
Sina Puken Jawa Nimun, doan lali Sina puken, lela lali Jawa nimun
Asal mulanya dari Sina Jawa Jauh di sana di pusat Sina, jauh di sana di awal Jawa (Taum, 1997: 49-50)
Sementara itu penutur , Gregorius Geru Koten, (46 tahun, 1994) (Taum, 102-103), asal kabupaten Flores timur menceritakan beberapa hal tentang perdagangan cendana yang ramai pada waktu itu, bahkan sampai terjadi perang yang dilakukan oleh Raja Larantuka (Raja pati Golo Arakiang) untuk menguasai perdagangan cendana:
Teks bahasa asli dan Terjemahan
Raja Pati Golo, Tuang Arakiang
Raja Pati Golo, Tuan Arakiang
Buak dagang timu tana one, Hope helung gue wulang gitang
Pergi berdagang ke tanah Timur, Pergi menukar barang di ufuk timur
Gening noOng kajo cendana, Pewuno noOng tale gaharu
Berebut akan kayu cendana, Bertengkar karena „tali gaharu’
Opo nuho tawa bele, Ope katang gere belola
Menyebabkan pecah perang besar, menyebabkan tumbuh pertempuran hebat
Raja hena tupo nuho, tuang hena gowa kata
Raja sendirian menghadapi pertempuran, tuan sendirian melaksanakan perang (Taum, 1997: 102-103)
Dalam sejarah perdagangan Cendana di kawasan Laut Sawu, terutama di wilayah Timor, penguasa Larantuka pada abad ke-17 menguasai perdagangan cendana di Timor dan kawasan Laut Sawu lainnya seperti di Solor dan Sumba. Bahkan penguasa Larantuka memiliki armada kapal meriam dan pasukan bersenjata api untuk menyerang daerah-daerah yang tidak mau bergabung dalam kekuasaan Larantuka.
Masyarakat Flores Timur mengenal istilah orang Tena Mau atau kelompok suku pendatang yang berasal dari kata tena (perahu) dan mau (terdampar), istilah itu merujuk kepada para pendatang yang berasal dari wilayah Nusantara Timur (Seram, Lembata) dan datang ke Flores timur dengan menggunakan perahu. Sedangkan istilah Sina Jawa merupakan istilah untuk menyebut wilayah yang berasal dari Nusantara Barat, meliputi daerah Jawa, sumatera, Malaka dan Sumbawa, saat ini Sina Jawa merupakan istilah untuk menyebut tempat yang jauh.(Taum, 1997: 5) Menurut Misionaris Katolik Ernst Vatter, ada cerita lisan yang mengaitkan Sina Jawa dengan Malaka. (Vatter, 1932, 1984(terj). : 71) Dalam tradisi orang belu memang diceritakan bahwa rombongan Sina Mutin Malaka sempat singgah di Flores timur (Larantuka). Terdapat fakta yang nenerangkan bahwa sejak kejatuhan Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 banyak penduduk Malaka termasuk keturunan Portugis yang bermigrasi ke Larantuka, Flores Timur.
Dalam cerita tradisi lisan yang dituturkan Markus Ratu Badin (68 tahun, 1994)(Taum, 1997: 49-50) yang berasal dari Larantuka diceritakan bahwa nenek moyang orang Flores Timur berasal dari Sina Jawa, yaitu kelahiran manusia kembar Wato Wele dan Lia Nurat dari sebutir telur yang berasal dari burung Elang yang juga orang tua Ema Watu Sem dan Bapa Modu Ma yang tinggal di Sina Jawa. Dalam kutipan liriknya dapat kita baca sebagai berikut:
Teks bahasa asli dan Terjemahan
Tutu pe me-niku, tutu newa matan, maring mo-hulu laran
Kisah ini adalah kisah awal mula kebun, cerita para penunjuk jalan
Tutu nia kaka bapa, maring nia ama nene
Kisah dari nenek moyang cerita dari para leluhur
Puken nia Ema wato sem, Nimun nia Bapa madu Ma
Bermula dari Ema Wato Sem, berawal dari Bapak Madu Ma
Sina Puken Jawa Nimun, doan lali Sina puken, lela lali Jawa nimun
Asal mulanya dari Sina Jawa Jauh di sana di pusat Sina, jauh di sana di awal Jawa (Taum, 1997: 49-50)
Sementara itu penutur , Gregorius Geru Koten, (46 tahun, 1994) (Taum, 102-103), asal kabupaten Flores timur menceritakan beberapa hal tentang perdagangan cendana yang ramai pada waktu itu, bahkan sampai terjadi perang yang dilakukan oleh Raja Larantuka (Raja pati Golo Arakiang) untuk menguasai perdagangan cendana:
Teks bahasa asli dan Terjemahan
Raja Pati Golo, Tuang Arakiang
Raja Pati Golo, Tuan Arakiang
Buak dagang timu tana one, Hope helung gue wulang gitang
Pergi berdagang ke tanah Timur, Pergi menukar barang di ufuk timur
Gening noOng kajo cendana, Pewuno noOng tale gaharu
Berebut akan kayu cendana, Bertengkar karena „tali gaharu’
Opo nuho tawa bele, Ope katang gere belola
Menyebabkan pecah perang besar, menyebabkan tumbuh pertempuran hebat
Raja hena tupo nuho, tuang hena gowa kata
Raja sendirian menghadapi pertempuran, tuan sendirian melaksanakan perang (Taum, 1997: 102-103)
Dalam sejarah perdagangan Cendana di kawasan Laut Sawu, terutama di wilayah Timor, penguasa Larantuka pada abad ke-17 menguasai perdagangan cendana di Timor dan kawasan Laut Sawu lainnya seperti di Solor dan Sumba. Bahkan penguasa Larantuka memiliki armada kapal meriam dan pasukan bersenjata api untuk menyerang daerah-daerah yang tidak mau bergabung dalam kekuasaan Larantuka.
Langganan:
Komentar (Atom)
